Mewaspadai Penyakit Penyerta Epilepsi

Epilepsi dapat terjadi kepada siapa saja tanpa batasan usia, gender, ras, sosial, dan ekonomi. Meskipun berpeluang untuk dapat hidup normal, berbagai masalah dapat menyertai anak dengan epilepsi, salah satunya komorbiditas berupa perkembangan yang terlambat, retardasi mental, gangguan sikap, dan perilaku. Dengan memahami hal ini. masyarakat yang memiliki anak penyandang epilepsi dapat lebih mendukung mereka agar patuh terhadap pengobatan, kontrol ke dokter secara teratur, serta tetap menjalankan pola hidup sehat. Komorbiditas epilepsi pada anak dapat disebabkan oleh penyebab epilepsi itu berupa kerusakan atau gangguan perkembangan otak, jenis epilepsi, atau karenan pengobatannya. Kormobiditas yang terkai dengan etiologi, antara lain disabilitas intelektual dan perkembangan terlambat.
Sementara komorbiditas yang terkait dengan terapinya, yaitu gangguan perilaku, seperti hiperaktif, tantrum, ketidakstabilan emosi, gangguan fungsi hati, dan ketidak seimbangan elektrolit. Faktor genetik , memang berperan dalam epilepsi tetapi tidak semua jenis epilepsi menunjukkan faktor genetik sebagai penyebab. Pada anak dengan gangguan perkembangan otak, pernah mengalami perdarahan di kepala, riwayat radang otak, radang selaput otak, dan lainnya dapat terjadi kerusakan sel-sel saraf di otak. Sel-sel saraf yang rusak itulah yang suatu saat dapat menjadi fokus timbulnya kejang pada epilepsi.


Jika masih ada kejang OAE dapat dinaikan dosisnya secara bertahap sampai dosis maksimal dengan tujuan bebas serangan kejang selama dua tahun. Setiap kali pasien kontrol sebelum dokter memutuskan atau menilai OAE yang diberikan efektif atau tidak, dinilai kepatuhan dan keteraturan minum obat, adalah faktor pencetus yang bisa menyebabkanan kekambuhan epilepsi. Berbagai faktor psikososial juga ditemukan dengan terjadinya masalah perilaku dan emosi, seperti tidak teratur kontrol berobat, kejang tidak terkontrol, dan latar belakang sosial ekonomi yang rendah. Sementara peneliti Bradley menemukan bahwa pada anak dengan epilepsi dijumpai adanya fluktuasi mood, perilaku hiperaktif, iritabilitas emosi, penurunan rentang perhatian, dan kesulitan dalam mempelajari matematika.