Epilepsi Bukan Dari Imunisasi

imunisasi1

Banyak orang percaya, imunisasi yang dilakukan pada anak bisa menyebabkan epilepsi. Anggapan tersebut adalah salah, penelitian terbaru mengungkapkan, terdapat penyebab yang lain jika seorang anak mengalami kejang setelah melakukan vaksinasi dan menderita epilepsi. Sebagian bayi dan anak-anak diketahui rentan mengalami sawan atau kejang-kejang ketika mereka demam tinggi. Satu dari 25 anak akan mempunyai minimal satu dari peristiwa tersebut, yang dikenal sebagai kejang demam.

Kejang demam merupakan hal yang menakutkan bagi para orang tua, meskipun biasanya berlangsung dalam waktu singkat dan tidak menimbulkan kesakitan. Dalam beberapa hari setelah mendapatkan vaksin, dibandingkan dengan dengan waktu-waktu lain, anak-anak ini akan mengalami kejang demam dalam dua sampai lima kali. Penelitian mengatakan, penting karena orang tua mempunyai hak untuk berharap bahwa peneliti serius dalam keamanan vaksin dan menginvestigasi setiap kejadian buruk yang potensial usai anak diimunisasi. Menurut dokter genetika, ketika anak mengalami kejang pertama tak lama setelah melakukan vaksinasi dan terus mengalami kejang setelah itu, orang tua mungkin berpikir vaksinasi menyebabkan epilepsi. Namun dalam sebuah penelitian, sebagian besar anak yang mengembangkan epilepsi setelah melakukan vaksinasi, mempunyai genetik atau penyebab struktural dari epilepsi.

Pada anak-anak tersebut, vaksinasi seharusnya hanya dianggap sebagai pemicu kejang pertama kali yang membuka pintu kerentanan yang mendasarkan anak untuk terkena epilepsi. Kira-kira hanya satu dari setiap 100 anak sehat yang mengembangkan epilepsi setelah kejang demam. Tetapi, anak-anak dengan kondisi tertentu, termasuk penderita cerebral palsy dan keterlambatan perkembangan, berada pada risiko yang lebih besar. Untuk dapat memahami hubungan antara kejang demam dan epilepsi, peneliti melakukan studi dengan mengamati hampir 1.000 anak-anak yang mengalami kejang pertama dalam beberapa hari setelah melakukan vaksinasi. Sebanyak 26 anak kemudian didiagnosis dengan epilepsi dan menindaklanjuti studi dengan 23 orang dari mereka.

Sementara, 8 anak tersebut mengalami sindrom Dravet, yaitu kondisi genetik langka dimana kejang dapat disebabkan oleh demam, penyakit menular, atau vaksinasi. 3 dari anak memiliki keterlambatan perkembangan dan cacat otak struktural yang dapat menyebabkan epilepsi. Empat anak lainnya mempunyai mutasi gen yang bisa menimbulkan epilepsi, malformasi otak, atau riwayat penyakit dari keluarga. Meskipun tidak ada penyebab dasar yang terdeteksi pada sepertiga dari anak-anak dengan epilepsi kaitannya dengan vaksinasi, secara genetik epilepsi pada anak-anak ini masih mungkin. Berdasarkan hal tersebut bagi orang tua, sangat penting untuk memahami bahwa penyebab dari genetik (mutasi DNA) untuk epilepsi tidak dapat disebabkan dari vaksinasi.

 

Tips Imunisasi Penting Bagi Anak

  1. BCG, Vaksin ini berfungsi agar tubuh bayi kebal terhadap bakteri tuberkulosis (TB). BCG diberikan sekali saat anak belum berumur 2 bulan. Imunisasi polio diberikan empat kali pada bayi yang berusia 0-11 bulan. Imunisasi campak diberikan satu kali saat bayi berusia 9-11 bulan.
  2. Imunisasi DPT merupakan vaksin 3 in 1 yang melindungi terhadap difteri pertusis (batuk rejan), dan tetanus. Difteri merupakan infeksi yang disebakan oleh bakteri yang menyerang tenggorokan dan bisa menimbulkan komplikasi yang fatal. DPT diberikan 3 kali pada bayi usia 2-11 bulan.
  3. MMR, Imunisasi MMR memberikan perlindungan terhadap penyakit campak, gondongan, serta campak Jerman dan diberikan melalui suntikan sebanyak 2 kali. Campak menimbulkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler, dan mata berair.
  4. Hib, Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influeza tipe b. Organisme bisa menimbulkan meningitis, pneumonia, dan infeksi tenggorokan berat yang dapat menyebabkan anak tersedak. Hingga saat ini, Imunisasi Hib tidak wajib karena mengingat harganya yang cukup mahal.
  5. Imunisasi meningitis belum diwajibkan pemerintah karena biayanya masih cukup besar. Imunisasi dilakukan oleh bayi di bawah usia satu tahun hingga balita.