Cara Menangani Bayi Prematur

Bayi-Lahir-Prematur

Menangani bayi prematur memerlukan ketelitian dan perhatian yang khusus dan serius dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan bulan yang normal. Karena mempunyai risiko cukup tinggi yang harus diwaspadai. Di Indonesia sendiri dari 100 kelahiran bayi, 15,5 bayi mengalami kelahiran prematur. Bayi prematur dibedakan menjadi 3 macam yang dibedakan menurut berat badannya.

1. Berat badan lahir rendah (BBLR), dengan berat saat lahir kurang dari 2.500 gram.

2. Berat badan lahir sangat rendah (BBLSR), dengan berat saat lahir kurang dari 1.500 gram.

3. Berat badan lahir ekstrem rendah (BBLER), dengan berat saat lahirkurang dari 1.000 gram.

Salah satu dokter spesialis anak dari RS Mitra Keluarga Bekasi Timur menjelaskan, bayi yang lahir prematur berisisko 10 kali lebih tinggi untuk meninggal daripada bayi yang lahir cukup bulan. Semakin kurang berat badan bayi pada saat dilahirkan, maka semakin tinggi pula risiko untuk meninggal. Untuk itu, diperlukan perawatan khusus dan penanganan yang cukup intensif. Selain itu juga, semakin cepat usia kelahiran bayi, maka risiko komplikasi terhadap kesehatan meningkat. Masalah yang terjadi pada bayi yang lahir prematur pun tak hanya pada saat pasca melahirkan, juga pada saat mereka dewasa.

Risiko pada bayi yang lahir prematur antara lain adanya komplikasi kesehatan seperti gangguan pernapasan, gangguan otak, jantung, gangguan saluran cerna, kuning, dan rentap terhadap serangan infeksi.  Sementara untuk komplikasi jangka panjang, diantaranya adalah dapat terkena penyakit paru-paru kronis, gangguan penglihatan, pendengaran, palsi selebral, dan gangguan tumbuh kembang lainnya.

Dokter juga mengatakan, saat dewasa bayi yang lahir prematur juga berisiko mengalami problem tingkah laku akibat kelemahan syaraf, kegagalan di sekolah karena tidak mampu mencerna pelajaran, dan masalah kejiwaan seperti mudah depresi dan gangguan psikis lainnya. Penyebab dari persalinan prematur bisa digolongkan menjadi beberapa faktor, diantaranya:

1. Akibat adanya komplikasi persalinan, seperti kelainan rahim atau leher rahim, infeksi pada sang ibu, pre-eklamsi, eklamsi plasenta previa, riwayat persalinan prematur, obesitas, jantung, hipertensi, anemia, asma, dan lainnya.

2. Karena epidemilogi seperti kehamilan di usia kurang seperti 18 tahun dan lebih dari 40 tahun atau kehamilan tidak diinginkan.

Umumnya, bayi prematur dirawat di sebuah inkubator atau menggunakan beberapa lampu untuk membuat suhu diruangan menjadi hangat agar si bayi tidak mengalami hiportemia atau suhu tubuh rendah. Bayi juga ditangani memakai mesin HFV, yaitu mesin dengan frekuensi getaran tinggi yang dapat membuka alveoli paru yang kolaps. Penanganan dan perawatan bayi yang lahir prematur memrlukan ketelitian dan perhatian yang khusus dan serius sehingga diperlukan keterampilan, pengetahuan, dan kesabaran. Dengan penanganan yang tepat, diharapkan dapat mengurangi dampak jangka panjang pada bayi prematur.