Cara Aman Menggunakan Implan Payudara

implan-payudara-_110815120155-318

Pemakaian implan seperti silikon untuk memperbesar bentuk payuda dalam kalangan wanita, seharusnya merupakan prosedur yang aman. Namun, ada sejumlah syarat agar tindakan ini tidak menyebabkan sejumlah risiko kesehatan.

Contoh kasus yang sedang hangat diperbincangkan sekarang ini adalah Malinda Dee, terpidana kasus penggelapan dan pencucian dana nasabah Citibank sebesar Rp 16 miliar, menjalani operasi karena silikon di payudara dan bokongnya meleleh. Operasi yang dijalani Malinda yaitu operasi pemasangan silikon baru di bagian bokong untuk menggantikan silikon yang sebelumnya telah terpasang, yang termasuk model lama yang mudah pecah apabila terjadi benturan. Pemasangan silikon dilakukan wanita cantik itu pada 2010 dan 2011.

Operasi bedah plastik untuk pembesaran payudara dengan menggunakan implan memang banyak dilakukan oleh para wanita untuk meperbaiki bentuk penampilan dan menambah rasa percaya diri. Terutama bagi kaum wanita yang sebelumnya kurang puas dengan bentuk tubuhnya. Pada tahun 2012 lebih dari 300.000 wanita di Amerika Serikat melakukan operasi pembesaran payudara.

Di seluruh dunia, angkanya mencapai lebih dari 1,5 juta orang. Implan payudara dibagi menjadi dua, yaitu saline (terbuat dari campuran air dan garam) dan silikon (terbuat dari bahan plastik sintetis). Namun, sebenarnya amankah prosedur implan payudara?

Menurut Badan Pemeriksa Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA/Food & Drug Association), pada dasarnya tindakan ini relatif aman. Namun, wanita tidak boleh berharap jika implan ini akan bertahan selamanya di dalam tubuh mereka. Sebagaian karena komplikasi seperti jaringan parut yang membuatnya nyeri atau implan yang pecah. Umumnya satu dari lima wanita yang menerima implan payudara untuk alasan kosmetik akan membuangnya dalam waktu 10 tahun, dan proporsinya lebih tinggi daripada wanita yang mendapatkan implan setelah kanker payudara.

“Semakin lama wanita yang memiliki implan di dalam tubuh, semakin besar kemungkinan wanita tersebut untuk mengalami komplikasi,” kata Jeffshuren, Kepala Perangkat Medis FDA seperti dilansir laman CBSNews. Dia menegaskan, wanita pemakai implan harus mendapatkan pemeriksaan secara teratur, termasuk scan untuk memastikan apabila implannya tidak pecah.

Dr Evan Garfein, ahli bedah plastik di New York Montefiore Medical Center, Amerika Serikat, mengemukakan, wanita yang memasang implan karena kosmetik perlu memahami bahwa pyudara berubah sesuai usia dan berat badan. Bahkan, jika implan tidak pecah atau tidak menjadi jaringan parut, kulit dan lemak di sekitar daerah tersebut dapat terasa berat atau melorot. Dia menyarankan para wanita yang sedang hamil untuk menunda memakai implan karena payudara mereka cenderung berubah setelah persalinan.

  1. Gali informasi

Sebelum Anda menjalani operasi pembesaran payudara, Anda harus mencari tahu tentang prosedur untuk memahami apa yang diperlukan. Ada banyak sumber informasi yang dapat anda peroleh baik itu dari internet maupun berkonsultasi dengan seorang ahli bedah kosmetik.

2.  Buatlah keputusan sendiri

Selalu ingat bahwa Anda yang paling tahu tentang tubuh Anda sendiri. Meskipun berguna untuk mendapatkan saran dari para ahli, akhirnya keputusan untuk memilih menjalani pembesaran payudara ada di tangan Anda Sendiri dan secara pribadi anda harus benar-benar menyukainya.

3.  Pilih ahli bedah kosmetik yang tepat

Disarankan untuk mencari tahu dan memeriksa riwayat operasi yang telah dilakukan oleh ahli bedah kosmetik yang akan melakukan operasi implan payudara. Anda harus memeriksa apakah ahli bedah kosmetik yang akan melakukan pembesaran payudara Anda telah terdaftar secara resmi.

4.   Pilih lokasi yang nyaman dan aman

Anda harus berusaha untuk melakukan pembesaran payudara Anda di lokasi yang nyaman dan aman. Meskipun dapat tergoda untuk menjalani operasi payudara di luar negeri karena penawaran harga yang lebih murah, ingat bahwa Anda memerlukan perawatan pascaoperasi yang memadai yang mencakup rencana pengelolaan apabila terjadi komplikasi.

5.  Cek fasilitas dan alat yang digunakan

Pastikan klinik atau rumah sakit yang Anda pilih mempunyai fasilitas pembedahan dan alat yang sesuai standar kamar bedah rumah sakit, seperti ruang steril yang berlapis dan sistem sterilisasi ruangan dengan filter udara yang memang dikhususkan untuk kamar bedah.