Cantengan

Mungkin sebagian dari kita sudah tidak asing dengan penyakit cantengan atau belum tahu samasekali, mungkin saja sudah pernah mengalaminya sekali, bahkan beberapa kali. Walaupun diawali karena hal sepele, ternyata penyakit ini bukanlah penyakit yang menyepelekan.

Penderita cantengan biasanya mengalami sakit yang cukup menyiksa, bahkan sampai terasa nyut-nyutan pada cantengan tersebut. Ketika saya SD saya juga pernah cantengan di tangan kiri pada jari manis, akibat menggunting kuku yang terlalu pendek. Kuku pada jari saya sampai tinggal setengah, dan mengalami luka yang bernanah dan juga bengkak. Kemudian ibu membawa saya ke dokter. Dan di sana cantengan saya dibersihkan dengan alkohol, diperban, dan diberi obat. Untuk pengobatan selanjutnya, saya diminta untuk rajin mengganti perban dan membersihkan cantengan saya. Alhamdulillah, tidak sampai 2 minggu cantengan saya sudah sembuh.

Cantengan (Paronychia)

Paronychia ( cantenagan) adalah infeksi pada lipatan kuku yang disebabkan oleh kuman (bakteri) Streptokokus, ditandai dengan pembengkakan lipatan kuku1.

Paronychia adalah c Pada paronychia akut, bakteri (biasanya Staphylococcus aureus atau streptococci) masuk melalui robekan pada kulit diakibatkan dari trauma pada lapisan kuku (lapisan pada kulit keras yang tumpang tindih disisi kuku), hilangnya kutikula, atau iritasi kronis (seperti dari air dan detergent). Pada kaki, infeksi seringkali mulai pada jari kaki yang tumbuh ke dalam1.

Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala paronikia Gejala awal paronikia dapat berupa kemerahan dan pembengkakan di sekitar kuku, yang disebut cellulitis. Pada keadaan ini kuku sangat sakit bila disentuh dan, kemudian berlanjut kuku dan/atau kulit menjadi berwarna kuning-hijau, yang menunjukkan bahwa terjadi pengumpulan nanah dibawah kuku dan kulit (disebut abses).

Gejala yang paling sering dan tanda-tanda paronikia, sebagai berikut:

  • Pembengkakan
  • Kemerahan
  • Bernanah
  • Terasa Nyeri bahkan terasa nyut-nyutan.

Jenis Paronikia

  • Paronychia akut: Pasien dengan paronychia akut sering hadir dengan riwayat trauma kecil untuk jari kuku atau manipulasi, disengaja atau tidak. Keluhan menyajikan adalah nyeri, nyeri, dan bengkak di salah satu lipatan lateral kuku.
  • Paronikia Kronis: Umumnya, pasien melaporkan gejala berlangsung 6 minggu atau lebih. Peradangan, nyeri, dan bengkak dapat terjadi secara episodik, seringkali setelah terkena air atau lingkungan yang lembab.

Faktor Penyebab

Penyebab paronychia Akut  :

  1. Paronychia akut biasanya terjadi akibat peristiwa traumatis, namun kecil, yang memecah penghalang fisik antara kuku dan kuku, gangguan ini memungkinkan infiltrasi organisme menular.
  2. Paronychia akut dapat disebabkan oleh kondisi yang tampaknya tidak berbahaya, seperti hangnails, atau dari kegiatan, seperti menggigit kuku, mengisap jari, manicuring, atau penempatan kuku buatan.
  3. Staphylococcus aureus merupakan organisme penyebab infeksi yang paling umum. Organisme, seperti Streptococcus dan spesies Pseudomonas, bakteri gram negatif, dan bakteri anaerob adalah organisme penyebab lainnya.
  4. Akut (kronis dan) paronychia juga dapat terjadi sebagai manifestasi dari penyakit lainnya, seperti pemphigus vulgaris. Meskipun kasus keterlibatan kuku di pemphigus vulgaris jarang terjadi, mereka bisa menjadi berat, yang melibatkan beberapa digit dan perdarahan.

Penyebab paronychia kronis:

  1. Penderita alergi
  2. Penderita diabetes
  3. Terutama disebabkan oleh ragi jamur Candida albicans.
  4. Penyebab jarang  lainnya dari paronychia kronis termasuk bakteri, infeksi mikobakteri.

Pengobatan

Pengobatan paronychia (paronikia) akut ditentukan oleh tingkat peradangan. Jika abses (pengumpulan nanah dibawah kuku dan kulit) tidak terbentuk, penggunaan kompres air hangat dan merendamkan yang terkena dalam larutan Burow (yaitu, aluminum asetat) atau cuka mungkin efektif. Kasus ringan dapat diobati dengan krim antibiotik atau dengan kombinasi antibiotik topikal dan kortikosteroid seperti betametason (Diprolene) cukup aman dan efektif untuk pengobatan paronychia bakteri akut dan tampaknya mempunyai keuntungan dibandingkan dengan antibiotik topikal saja1.

Pada infeksi yang menetap, dapat merendam dengan air hangat dan bidai pelindung pada bagian  yang sakit (menggunakan kasa dan perban). Anak yang menghisap jari dan pasien yang menggigit jari diobati untuk melawan bakteri anaerob dengan terapi antibiotik. Bagaimanapun, Staphylococcus dan Bakteriodes dapat resisten terhadap antibiotik ini. Clindamisin dan kombinasi amoksisilin clavulant efektif untuk melawan bakteri yang terisolasi.

Beberapa ahli merekomendasikan kultur bakteri aerob dan anaerob pada paronychia berat sebelum memulai terapi antibiotik. Ketika terdapat abses dilakukan usaha pembedahan. Jika paronychia didiamkan, pus (nanah) mungkin menyebar kebawah sulkus kuku pada daerah yang berlawanan sehingga mengakibatkan terjadinya abses disekitar kuku. Jika sudah terjadi kasus ini, maka kuku harus diekstraksi unyuk mendrainase pus secara adekuat1.