Teknologi Deteksi Stroke Dini

Strok menjadi penyebab kematian karena penyakit nomor satu di dunia. Sebenarnya stroke dapat didekteksi dan ditangani dengan baik, salah satu metode penanganan stroke adalah Digital Substraction Angiotherapy (DSA). Tehnologi ini merupakan salah satu upaya untuk membantu masyarakat Indonesia, DSA otak merupakan pemeriksaan golden standart dari pembuluh darah otak untuk melihat aliran dipembuluh darah arteri sampai ke jaringan lalu ke vena secara langsung dan terus menerus melalui alat angiografi atau keteterisasi. DSA yang dilakukan sebagai alat diaknostik yang berfungsi untuk melihat kelainan pembuluh darah seperti penyempitan, sumbatan, aneorisma, dan Arteriovenous Malformatin (AVM) pada alteri dan vena yang dapat dilanjutkan sebagai alat terapi untuk mengobati kelainan- kelainan tersebut.

Screenshot_50Sederhananya, DSA merupakan salah satu teknologi medis yang dapat menggambar pembuluh darah, Cara kerja DSA sendiri dengan menyemprotkan zat kontras (iodine) agar bisa dideteksi oleh alat Sinar X melalui film. DSA tanpa radiasi sehingga diklaim sebagai perangkat paling aman, untuk saat ini. Tehnologi ini bisa diaplikasikan pada pembuluh jantung, kepala, kaki, perut hati dan lainya. Pada prosedurnya menggunakan iodine dikarenakan cairan tersebut terlihat jalas pada sinar X –ray, serta dapat dengan mudah deserap dan dikeluarkan oleh tubuh. Sebelum DSA hadir, tehnologi terdahulu juga cukup berkembang, salah satunya adalah Magnetic Resonance Imaging (MRI) yang merupakan prosedur diagnostic untuk memeriksa dan mendeteksi kelainan organ dalam tubuh dengan menggunakan medan magnet dan gelombang frekuensi radio tanpa radiasi sinar X.
Selain itu rangkaian diaknosis lainya adalah Magnetic Resonance Angiography (MRA) Dan magnetic Resonance Venography (MRV). Namun, akurasi dan efesiensi waktu untuk DSA Lebih digunakan karna dinilai lebih akurat, dan relative cepat. DSA bisa mendekteksi abnormalitas pada pembuluh darah secara lebih jelas dan terukur serta penggunaan cairan contras seminimal mungkin. Proses pengerjaanya dengan menggunakan kateler (selang kecil dengan diameter lebih kecil dari 2 mm) melalui pembuluh kaki (femoral) . Kemudian menyemprotkan zat kontras (iodine) untuk menggambar atau mengecek aliran pembuluh darah. Setelah itu baru bisa dideteksi oleh alat sinar X misalnya untuk melihat bagian yang mengalami gangguan atau hambatan yang terjadi didalam otak tanpa harus dibedah atau pambekuan tegkorak.
Selain lebih nyaman, prosedur ini disinyalir lebih aman bagi pasien, karena pembuluh leher (carotis) memiliki sensitivitas yang vital bagi lancarnya darah dari dan menuju otak. Jadi dengan tindakan invasive seminimal mungkin, hasil yang dicapai pun lebih baik. DSA juga bisa berfungsi sebagai terapeutik yang salah satunya berasal dari heparin yang disemprotkan. Pada tahap diagnostic, tahap ini mendeteksi kelainan pembuluh darah, vascularisasi tumor, dll. Untuk tahap terapeutik, tahap ini dapat melakukan pengobatan abnormalitas, pada pembuluh darah, dengan cara memasukkan obat, alat maupun implant pada pembuluh yang dituju. DSA juga digunakn sebagai terapi pelengkap sebelum menjalani operasi.
Efek samping DSA terbilang kecil hanya merasakan pusing, mulai akibat cairan kontras yang disemprotkatkan meliputi Na Cl, Heparin, dan kontras untuk memberikan warna hitam.Kateter yang digunakan sendiri aman termasuk pada anak dan tidak mengganggu fungsi tubuh lainya.Tumor hati, liver, jantung, kencing manis, dan semua yang ada pembuluh darahnya dapat dilakukan dengan menggunakan DSA tergantung indikasi. Setelah didiagnostik dengan DSA penanganan yang bisa dilakukan adalah coiling (menyumbat pembuluh darah yang berpotensi pecah) atau embolisasi (menarik sumbatan aliran darah) tergantung diagnosa gangguan pembuluh darah pasien. Setelah melakukan penanganan dan perawatan bukan tidak mungkin gangguan pembuluh darah akan muncul kembali karena ada faktor lain seperti diabetes atau hipertensi. Oleh karena itu, menurutnya perlu untuk mengubah gaya hidup yang lebih sehat.