Penanganan Tepat Cedera Lutut

Cedera lutut yang sering dialami penggila olahraga atau atlet, kini bisa diatasi dengan metode bedah minimal invasif yang disebut artoskopi. Operasi ini lebih baik daripada operasi terbuka karena tidak perlu waktu lama, mengurangi risiko infeksi, waktu penyembuhan cepat, dan hasilnya maksimal.
Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk bergaya hidup sehat seperti rutin berolahraga, ternyata tidak diimbangi dengan kedisiplinan saat menjalankannya. Banyak diantara mereka yang mengabaikan tahapan latihan dengan tidak melakukan fase pemanasan atau tidak mengenakan pakaian dan peralatan olahraga yang sesuai.
Ada juga yang memilih waktu yang tidak tepat, seperti pada siang hari saat matahari sedangterik atau berolahraga dalam keadaan tidak fit. Kondisi yang dipaksakan ini bukannya membuat tubuh menjadi bugar, justru meningkatkan risiko menderita cedera. Cedera olahraga ini umumnya banyak dialami pemain olahraga yang banyak dilakukan di tempat-tempat umum, seperti bulu tangkis, sepak bola, bola basket, dan futsal. Terus meningkatnya amino masyarakat penyuka olahraga yang menuntut kelincahan dan kecepatan tersebut, sejalan dengan penambahan kasus cedera.


Salah satu badian tubuh yang rentan tertimpah cedera saat olahraga, yakni urat pada sendi lutut, terutama putusnya bagian ACL (anterior cruciate ligament) ini adalah jaringan pada sendi lutut yang menghubungkan tulang tibia (tulang bawah) dengan tulang femur (paha). Ligamen ini sangat kuat dan terletak di bagian tengah sendi lutut dan menyilang di bagian depan. Fungsinya untuk menstabilkan sendi lutut pada gerakan translasi atau gerakan depan dan belakang, serta rotasi atau gerakan berputar.
Gejala awal jika putus ACL sangat khas. Diantaranya terjadi false landing atau terpuntir, suara “krek” akibat putusnya urat tersebut, timbul bengkak di bagian lutut, dan penderita tidak bisa melanjutkan permainan saat itu juga. Kalau keempat tanda-tanda tersebut ada, maka sekitar 80%-90% ACLnya putus. Setelah nyeri dan bengkak berkurang, biasanya lutut akan terasa tidak stabil dan seakan-akan mau lepas. Berbeda dengan yang berada dikaki, jika sudah putus, urat di lutut tidak dapat menyatukannya lagi, tidak bisa dijahit.
Jika tidak ditangani kondisi ini menjadikan sendi pada lutut rentan mengalami gesekan dan rasa nyeri akan terus menetap. Pada akhirnya akan menyebabkan struktur tulang menyerupai huruf X atau O dan risiko menderita osteoarthitis atau pengapuran tulang menjadi meningkat. Pengapuran tulang akan datang lebih cepat pada usia masih muda, karena itu untuk mengatasinya, perlu dilakukan proses rekomendasi dengan mengganti urat yang lama dengan yang baru. Bisa dari urat pasien sendiri (autograft) atau dari tubuh orang lain (allograft) yang umumnya diambil di otot hamstring daerah paha.
Operasi pemulihan urat baru ini, kini sudah bisa menggunakan teknik bedah minimal invasif yang disebut dengan artoskopi. Tak seperti operasi terbuka yang membedah sendi lutut hingga 10 sentimeter, metode ini lebih baik karena tidak perlu waktu lama, mengurangi risiko infeksi, waktu pemulihan cepat, dari segi estetika lebih baik, serta hasil maksimal. Luka operasinya kecil, hanya dua lubang keyhole dan satu sayatan memanjang sepanjang 2 hingga 3 sentimeter.
Lubang pertama dibuat untuk membuat kamera kecil yang tersambung dengan layar monitor. Kamera video ini menjadi mata, dokter dalam melihat kondisi jaringan di dalam sendi. Adapun lubang kedua akan menjadi saluran bagi alat-alat lain untuk melakukan prosedur operasi, termasuk menjahit dan membersihkan sendi. Sementara, sayatan pada bagian tulang kering lutut digunakan untuk memasukkan urat baru. Prosedur artropi umumnya berlangsung cukup singkat, hanya satu jam. Jika ada bantalan yang robek, operasi bisa lebih lama sekitar 1,5 sampai dua jam. Sesudahnya , pasien perlu menjalani proses penyembuhan selama sekitar enam bulan, sebelum sendi bisa digunakan seperti sedia kala. Usai operasi, pasien hanya menginap dua sampai tiga malam untuk penanganan nyeri dan infeksi kontrol.