Semakin Majunya Pengobatan Kanker

Pengobatan penyakit kanker

Kemajuan dan perkembangan teknologi bidang pengobatan telah membawa perubahan yang signifikan dalam penatalaksanaan kanker. Lebih dari separuh pasien yang menderita penyakit kanker dapat bertahan hidup, setidaknya 5 tahun sejak terdiagnosis memiliki penyakit tersebut.

Penyakit kanker telah menjadi persoalan dunia. Perhatiannya adalah sekitar 47% kasus kanker dan 55% kematian akibat penyakit kanker terjadi di negara berkembang. Situasi tersebut diperkirakan akan memburuk pada tahun 2030 dan bisa berlanjut menjadi meningkat sebesar 81% jika tidak dilakukan upaya penanggulangan yang tepat. Tetapi, ilmu kedokteran secara perlahan dan pasti, berhasil menaklukan serangan dari sel kanker. Hal tersebut berkat pengembangan konsep anti-angiogenesis, lebih dari separuh pasien kanker bisa bertahan hidup setidaknya 5 tahun sejak terdiagnosis akibat kemajuan dalam pengobatan kanker tersebut.

Konsep tersebut berkembang sejak BPOM Amerika Serikat pertama kali menyetujui penggunaannya untuk pengobatan kanker usus besar atau kolorektal pada tahun 2004. Sejak saat itu, anti-angiogenesis terus diteliti dan dikembangkan untuk mengobati jenis kanker lainnya seperti kanker paru dan ovarium. Di Indonesia, pengobatan dengan konsep anti-angiogenesis telah tersedia di dalam BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Pakar hematologi onkologi medik mengatakan, angiogenesis merupakan proses pembentukan pembuluh darah baru dalam tubuh manusia, dan termasuk proses alamiah yang memiliki peran penting dalam penyembuhan luka dan reproduksi.

Tubuh mengontrol proses keseimbangan antara faktor-faktor yang mendorong pertumbuhan dan penghambatannya dalam sel-sel sehat. Jika keseimbangan tersebut terganggu, terjadi prosrs angiogenesis yang terlalu sedikit atau sebaliknya. Angiogenesis memiliki peran penting dalam pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. Pasokan darah dibutuhkan bagi tumor untuk tumbuh. Tumor dapat mendapatkan pasokan darah dengan cara mengeluarkan sinyal-sinyal kimia yang menyebabkan terjadinya angiogenesis.

Tumor juga bisa merangsang sel-sel normal di sekitarnya untuk menghasilkan molekul yang mengirim sinyal angiogenesis. Pembuluh darah baru yang dihasilkan akan memberi makan sel tumor dengan oksigen dan nutrisi yang membuat sel kanker mendesak jaringan di sekitarnya, berkembang ke seluruh tubuh, dan membentuk koloni sel-sel kanker baru. Kondisi ini disebut dengan metastasis. Pengobatan kanker dengan konsep anti-angiogenesis tidak langsung menyerang sel kanker, namun menyasar pembuluh darah yang diperlukan oleh sel kanker untuk tumbuh dan berkembang. Dengan cara tersebut, tumor tidak bisa berkembang, bahkan mengecil jika pasokan darah dihentikan.

Anti-angiogenesis termasuk golongan terapi target atau targeted therapy yang menggunakan obat-obatan untuk menghentikan tumor membentuk pembuluh darah baru. Tanpa pembuluh darah baru yang memasok nutrisi dan oksigen, tumor tidak bisa tumbuh. Para ilmuwan telah menemukan beberapa jalur yang dapat menghambat pertumbuhan pembuluh darah dan masing-masing jalur ini bisa dikembangkan untuk menjadi sasaran terapi kanker. Salah satu protein terpenting bagi pertumbuhan pembuluh darah baru adalah vasculer endothrlial growth factor (VEGF). Protein tersebut berikatan dengan protein yang disebut reseptor VEGF (VEGFR) dan mengirim sinyal untuk tumbuh dan membentuk pembuluh darah baru. Obat anti-angiogenesis Bevacizumab pertama kali disetujui oleh BPOM/FDA di Amerika Serikat pada tahun 2004.

Hingga saat ini, Bevacizumab adalah obat biologi yang paling banyak digunakan untuk mengobati lebih dari 1,5 juta pasien di dunia dan telah mendapatkan persetujuan FDA untuk 7 jenis kanker yaitu kanker ovarium, ginjal, otak paru, kolorektal, dan payudara. Di Indonesia, terapi anti-angiogenesis yang telah disetujui oleh BPOM untuk indikasi kanker kolorektal, payudara tipe tertentu, paru dan ovarium. Hal terpenting yang harus diketahui oleh masyarakat adalah mengetahui faktor risiko, secara rutin melakukan deteksi dini dan segera berkonsultasi ke dokter jika menemukan tanda-tanda kanker.Kanker tergolong dalam penyakit tidak menular. Pada kasus penyakit kanker, pemerintah melakukan 3 kegiatan utama, yaitu preventif, promotif, dan rehabilitatif.

Kegiatan preventif dilakuakn untuk membantu mengendaliakn faktor risiko terjadinya kanker, contohnya edukasi akan pentingnya deteksi dini. Kegiatan promotif antara lain edukasi mengenai pola makan sehat, lalu untuk kegiatan rehabilitatif, lebih ke arah paliatif, yaitu membantu meningkatkan kualitas hidup pasien kanker stadium lanjut. Contohnya, dapat menyediakan home care yang bekerja sama dengan puskesmas. Terkait dengan askes, selain BPJS kementrian kesehatan juga menyediakan sistem rumah sakit rujukan regional yang dirapkan dapat memudahkan akses masyarakat, tanpa harus langsung merujuk ke rumah sakit pusat di mana dari segi jarak dan waktu tempuh dapat memakan waktu lama untuk pasien mendapatkan tindakan medis.