Konsumen Berhak Memilih Obat

LINGKUNGAN DAN KESEHATAN

Kepala Badan POM : Perusahaan Wajib Cantumkan Tanda khusus

Konsumen berhak memilih obat-obatan yang akan dikonsumsi berdasarkan pertimbangan hukum agama yang diyakini. Karena itu, perusahaan Farmasi wajib mencantumkan tanda khusus pada obat, vaksin, atau suplemen yang mengandung bahan bersumber atau pada prosesnya bersinggungan dengan babi.
Selama ini, komposisi obat yang tercantum dalam buku panduan obat umumnya hanya tertuliskan nama zat aktifnya saja, tidak ada keterangan bahwa zat aktif maupun bahan pendukung lain diperoleh dari binatang serta bagai mana prosesnya. Ketiadaan informasi itu membuat dokter tidak bisa memberikan informasi tentang kehalalan suatu obat.
Belum ada dokter yang bisa memberikan obat alternatif dengan menjelaskan perbandingan khasiat dan dampaknya, berharap produsen atau importir obat mencantumkan sumber asal bahan baku obat. sama halnya seperti makanan bahan baku obat yang berada di Indonesia harus jelas kandungannya. Kepala Badan Pengawasan makana dan obat Roy A Sparringa mengatakan sebagai mana produk dengan pengaturan yang ketat, asala bahan baku maupun proses pembuatan harus dijelaskan. Hal ini diatur dalam Peraturan Kepala Badan POM Nomor HK.03.1.23.06.10.5166 TAHUN 2010.


Aturan itu menyebutkan bahwa obat-obatan tradisional dan suplemen yang mengandung babi harus mempunyai tanda khusus pada tulisan itu wajib,  ada pun pada peroses pembuatannya jika bersentuhan dengan babi wajib dicantumkan tanda tulisan. Tulisan itu dicetak pada tabel dengan warna hitam dalam kotak hitam di atas dasar putih. apaencantuman ini adalah tanggung jawab industri untuk memberikan informasi secara jujur.
Badan POM juga menguji obat secara acak untuk memastikan ada tidaknya zat yang bersumber dari babi pada obat, sanksi pelanggaran ketentuan pencantuman label yang diberikan berupa  sanksi administratif, peringatan tertulis, penarikan atau pemusnahan produk, hingga pembekuan izin edaran atau persetujuan pendaftaran produk dan sanksi administratif lainnya.

Pengobatan Alternatif
YLKI tidak menyarankan menyerahkan konsumen beralih ke pengobatan alternatif. Jika pasian merasa dirugikan dengan pengobatan alternatif tetap bisa melaporkan ke lembaga konsumen, namun mekanisme pembuktiannya dipastikan sulit. Apalagi jika mengkonsumsi obat-obatan yang tidak jelas produsen atau pabriknya.