Kaum Wanita Waspada Penyakit Diabetes

Penyakit Diabetes

Jumlah wanita penderita diabetes terus meningkat dari masa ke masa. Memahami gejala penyakit diabetes pada wanita sangat penting agar dapat lebih cepat mengambil langkah penanganan tepat dan terhindar dari risiko terkena penyakit diabetes. Jumlah penderita penyakit diabetes melitus di dunia belakangan ini memang semakin memprihatinkan.

Para wanita dibandingkan dengan pria, berisiko lebih tinggi terserang penyakit yang disebut juga dengan kencing manis. Dari data Riskesdas Kementerian Kesehatan pada tahun 2007, diabetes miletus pada wanita menempati urutan pertama penyebab kematian, yaitu 16,3% dan pada pria di urutan keenam sebesar 6%.

Salah seorang dokter mengatakan, masalah diabetes miletus pada wanita memang semakin meningkat. Meski masih dalam rentang usia reproduksi atau belum menopause, wanita mempunyai risiko sama dengan pria untuk mengalami gangguan risiko penyakit jantung, seperti diabetes, hipertensi, dan dislipidemia. Tetapi, jika menjalankan gaya hidup kurang baik yang ditandai dengan kelebihan berat badan dan lingkar perut yang bertambah atau obesitas sentral, risiko diabetes miletus pada wanita menjadi besar. Hormon wanita yang merupakan perlindungan bagi wanita pre-menopause dari gangguan penyakit jantung dan pembuluh darah, tidak akan dapat berfungsi melindungi jika mempunyai obesitas.

Gejala diabetes sejatinya tidak terdapat perbedaan mencolok antara yang diderita oleh pria dan wanita. Salah satu gejala yang bisa dialami wanita dan dapat dicurigai ke arah diabetes adalah keputihan berulang dan hal tersebut berisiko mencetuskan infeksi saluran kemih berulang dan tidak baik untuk kesehatan ginjal. Pada fase kehamilan, Anda juga berisiko terserang diabetes miletus. Tetapi dokter akan memeriksa diabetes miletus yang dialami pasien, apakah pasien memang penderita diabetes miletus atau hanya mengalami diabetes miletus pada saat kehamilan yang biasa disebut diabetes gestasional. Jika memang merupakan penderita diabetes miletus sejak awal, pada saat kehamilannya, obat oral yang diberikan sebaiknya dikonverensikan dengan insulin.

Pada kasus diabetes gestasional, dokter akan memberikan terapi nutrisi medik selama awal kehamilan, yaitu sekitar 2-4 minggu. Jika tidak mencapai target kendali gula darah, akan diberikan suntik insulin yang akan dihentikan setelah melahirkan. Biasanya kasus diabetes gestasional akan berulang pada kehamilan berikutnya, mengingat bertambahnya usia sang ibu. Wanita hamil dengan diabetes harus melakukan kendali diabetes miletusnya supaya tidak terjadi kelahiran bayi dengan berat badan berlebihan (giant baby). Pada saat proses kelahiran, dokter harus berhati-hati dalam memutuskan cara lahir normal atau caesar. Penting untuk diperhatikan apakah terdapat komorbiditas diabetes, yaitu hipertensi, kadar kolesterol yang tinggi, dan sindrom metabolik lainnya.

Dianjurkan untuk melahirkan dengan pengawasan dokter ahli. Jika harus dioperasi, harus dilakukan kontrol terhadap luka pascaoperasi. Tidak akan menjadi masalah jika luka bersih, tekanan darah terkontrol dengan baik, dan nutrisi yang dikonsumsi juga baik. Kontrol dan edukasi juga harus dilakukan dengan seksama oleh dokter kepada pasiennya ketika bayi sudah dilahirkan. Evaluasi kesehatan bayi dapat dilakukan melalui proses rawat bersama dokter kebidanan, dokter anak, dan dokter penyakit dalam.

Pada kasus bayi dengan ibu penyandang diabetes miletus, memang terdapat risiko bayi akan menderita obesitas. Tetapi dengan edukasi dan kotrol yang baik, seperti memberikan ASI eksklusif, mengatur nutrisi bayi, membiasakan bayi aktif, dan diberi makanan sehat masalah obesitas bisa dihindari. Wanita yang menderita diabetes juga harus berhati-hati agar tidak terjangkit infeksi, seperti infeksi saluran kemih. Menjaga kebersihan daerah intim adalah salah satu hal yang penting dilakukan. Saat fase kehamilan, infeksi ini bisa mengakibatkan kontraksi sebelum waktunya.

Negara-negara di wilayah ASEAN menghadapi beberapa permasalahan diabetes miletus bersama, anatara lain masih sering terjadinya keterlambatan diagnosis penyakit. Selain keterlambatan diagnosis, rendahnya pengetahuan, jumlah tenaga ahli yang kurang memadai, masih tingginya biaya pengobatan, serta kurangnya promosi gaya hidup sehat oleh semua pihak. Di Indonesia, masalah keterlambatan diagnosis diabetes miletus yang paling mengemuka. Di samping hal tersebut, jumlah tenaga ahli endokrin di Indonesia sangat kurang dibandingkan dengan populasi penderita penyakit diabates miletus itu sendiri. Data Riskesdas pada tahun 2007 mencatat sekitar 5,7% populasi di Indonesia menderita penyakit diabetes miletus, dengan 1,5% sudah terdiagnosis sebelumnya, sedangkan 4,2% di anataranya belum tahu bahwa dirinya menderita penyakit diabetes miletus.