Anak Konstipasi disebabkan oleh Pola Asuh

Anak Konstipasi Disebabkan Pola Asuh

Pola pengasuhan anak oleh orang tua yang kurang baik diketahi bisa mengganggu kesehatan anak. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, cara dan sikap orang tua dalam mendidik bisa jadi faktor penting yang berkonstribusi ketika anak mempunyai masalah kesulitan buang air besar atau konstipasi kronis. Penanganan konstipasi atau disebut juga sembelit dan masalah perilaku yang umum pada anak-anak sembelit serta membesarkan seorang anak dengan sembelit kronis sangat menantang. Masalah interaksi orang tua dan anak bisa dengan mudah menyebabkan sembelit kronis.

Sikap orang tua dan hubungan orang tua dengan anak telah diakui sebagai pemicu utama keseluruhan perkembangan perilaku, emosional dan kognitif anak. Meskipun penelitian mengenai topik ini terbatas, faktor pengasuhan diakui memainkan peran baik dalam pengembangan maupun penanganan masalah konstipasi pada anak.

Ketika mengobati anak yang sembelit, seorang dokter juga harus menangani masalah pengasuhan dan bekomunikasi bahwa orang tua mungkin berkonstribusi terhadap kondisi penyakit kronis pada anak mereka. Untuk meneliti masalah ini, dilakukan sebuah penelitian dengan mengumpulkan informasi dari orang tua 133 anak-anak antara usia 4 tahun dan 18 tahun yang mendatangi sebuah klinik rawat jalan pencernaan di sebuah rumah sakit.

Anak-anak tersebut umumnya menderita sembelit fungsional, yang tampaknya tidak mempunyai penyebab fisik atau medis yang mendasari dan divonis secara klinis oleh dokter umum, dokter sekolah, dan dokter anak. Orang tua yang membawa anak ke klinik diminta untuk mengisi kuesioner yang menilai bagaimana sikap orang tua saat membesarkan anak.

Kuesioner tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar independensi oleh orang tua yang diberikan ke anak. Seperti memungkinkan anak untuk mempunyai pendapat sendiri dan mendorong inisiatif anak. Selain hal tersebut, bagian lain dalam kuesioner adalah mengukur orang tua mengasihani diri sendiri yang berkaitan dengan frustasi dan mudah tersinggung sebab membesarkan anak.

Dokter peneliti kemudian melihat gejala dari anak-anak yang mengalami sembelit fungsional dan menilai apakah sikap orang tua yang terkait dengan kesakitan yang dialami oleh anak. Kemudian ditemukan, anak-anak dengan kemandirian yang rendah atau tinggi berdasarkan pada sikap orang tua mempunyai frekuensi buang air besar lebih jarang dibandingkan anak-anak dengan kemandirian rata-rata.

Skal sikap independensi yang memiliki skor yang lebih tinggi atau lebih rendah dikaitkan dengan masalah tambahan dalam inkontinensia tinja, misalnya sikap sangat overprotektif dari orang tua. Anak dari orang tua yang memiliki skor mengasihani diri sendiri yang tinggi juga berpotensi menderita sembelit. Efek yang jelas lebih kuat terjadi pada anak laki-laki dan anak-anak di atas usia 6 tahun. Namun penelitian ini tidak bisa membuktikan sikap orang tua bisa menyebabkan gejala konstipasi pada anak-anak. Para peneliti tidak dapat menyimpulkan, orang tua harus disalahkan untuk sembelit kronis anak. Namun, orang tua tidak sengaja menjadi penyebab sembelit kronis pada anak.