Harapan Untuk Pasien Kanker Kolorektal

kanker kolorektal

Pengobatan untuk pasien kanker usus besar stadium lanjut memasuki babak baru. Kini telah hadir obat terbaru yang mempunyai molekul yang bisa menghambat pertumbuhan sel kanker dan mampu menekan risiko kematian hingga 23%. Kanker kolorektal sepertinya penyakit yang harus menjadi perhatian masyarakat. Di Indonesia, kanker kolorektal juga menempati urutan kanker nomor 3 paling banyak ditemui, setelah kanker payudara dan kanker paru. Kanker kolorektal merupakan kanker yang berasal dari sel-sel di usus besar dan rektum.

Penyebab dari kanker kolorektal yang banyak dijumpai di usia lebih dari 50 tahun ke atas ini umumnya berkaitan dengan sejumlah faktor. Pada saat kekebalan tubuh seseorang tinggi, sel-sel kanker akan dihancurkan dan dicegah sehingga tidak bisa bertambah banyak dan membentuk tumor. Maka dari itu, penderita kanker umumnya berusia lanjut karena daya tahan tubuh yang sudah menurun dan banyak kekurangan nutrisi. Gejala kanker mematikan ini pun umumnya beragam.

Selain memperhatikan faktor risiko gejala yang bisa dikenali, terbagi antara gejala non-gastrointestinal dan gastrointestinal. Gejala non-gastrointestinal antara lain kelelahan, anemia (kurang darah), palpitasi (denyut jantung yang tidak teratur), selera makan menurun, berat badan turun, warna kulit memudar, dan terjadi penyumbatan darah. Bila terdiagnosis di stadium awal, tingkat harapan hidup penderita kanker kolorektal cukup menggembirakan. Bahkan 6% dari penderita yang terdiagnosis di stadium 4 bertahan hingga lima tahun.

Berdasarkan panduan European Society For Medical Oncology (ESMO) dan National Comprehensiv Cancer Network (NCCN) apabila pengobatan pada lini 1 dan 2 tidak berhasil dengan baik, pada pasien dengan kanker kolorektal stadium lanjut akan dilakukan terapi paliatif. Terapi ini mencakup terapi target, pemberian obat atau substansi yang bisa menghambat molekul spesifik yang terlibat dalam pertumbuhan dan perkembangan tumor. Berdasarkan hal tersebut, telah hadir Regorafenib yang merupakan pengobatan terbaru utnuk pasien kolorektal yang terbukti mampu menekan risiko kematian hingga 23%.

Regorafenib mempunyai molekul yang bisa menghambat pertumbuhan sel kanker VEGF, PDGF, TIE, KIT, RET, RAF dan BRAF. Pengobatan ini bertujuan untuk meningkatkan kalengsungan hidup sambil mempertahankan kualitas hidup sebaik mungkin. Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM telah memberikan izin edar pada 16 oktobel lalu atas penggunaan Regorafenib untuk terapi pasien.

Cara Mencegah Terkena Kanker Usus Besar

1. Hindari makanan tinggi lemak, protein, kalori, serta daging merah.

hindari makanan berlemak

Lemak menimbulkan banyak masalah untuk tubuh, termasuk sebagai pemicu kanker. Jangan lupa konsumsi kalsium dan asam folat. Batasi makanan yang diolah dengan suhu tinggi, diasinkan, diasap, dan dibakar. Pengolahan makanan terbaik, yaitu dengan cara direbus.

2. Konsumsi makanan berserat.

makanan berserat

Makanan berserat berguna untuk memperlancar buang air besar dan menurunkan derajat keasaman, konsentrasi asam lemak, asam empedu, dan besi dalam usus besar.

3. Cukupi kebutuhan vitamin D dan E.

sumber vitamin D

Vitamin D dalam bentuk aktif dapat menghambat pelipatgandaan sel kanker. Beberapa penelitian menunjukkan, risiko penyakit kanker usus, payudara, dan rahim ternyata bisa dikurangi dengan mengonsumsi asupan yang mengandung vitamin D.

4. Makan buah dan sayuran setiap hari.

makan buah dan sayur

Makan banyak sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian, seperti tempe tahu, dan makanan yang banyak mengandung serat. Paling tidak satu atau dua kali sehari mengonsumsi sayuran hijau dan buah-buahan.

5. Hindari kegemukan.

hindari kegemukan

Hindari berat badan berlebihan atau kegemukan. Timbanglah berat badan selama sekali seminggu. Penelitian menunjukkan, akibat kegemukan, risiko terjadinya kenker lebih besar.

6. Lakukan aktivitas fisik.

aktivitas fisik

Saat berolahraga, lemak dalam tubuh akan terbakar dan mempercepat metabolisme. Hal itu akan mencegah terjadinya kanker. Kegiatan fisik dengan olahraga secara teratur disertai kesehatan mental dan rohani merupakan bagian terpadu dalam upaya pencegahan penyakit kanker kolon.