Cegah Alzheimer dengan Stimulasi Otak

Young Women Power Walking --- Image by © Redlink Production/Corbis

Kasus Alzheimer terus meningkat belakangan ini, bahkan sudah menyerang kalangan yang masih muda. Menjalankan aktifitas yang merangsang otak, baik berupa mental ataupun fisik terbukti bisa mencegah kemungkinan terserang alzheimer.

Penyakit alzheimer tidak terjadi secara mendadak saat usia sudah lanjut, melainkan muncul akibat berbagai aktivitas yang telah dilakukan dan tidak pernah dilakukan saat usia muda. Matinya sel pada otak yang menyebabkan gangguan ditandai dengan gejala kepikunan ini mulai datang saat usia muda, bisa mencapai 20 tahun seblum terserang alzheimer.

Penyakit Alzheimer adalah salah satu jenis dari demensia, yaitu penyakit akibat kerusakan otak yang menyebabkan hilangnya fungsi otak secara bertahap hingga mengalami penyusutan akibat sel-sel otak yang telah mati. Sel-sel otak yang mati diakibatkan timbunan plak yang merusak bagian-bagian tertentu pada otak.

Sekitar 50%-60% penderita demensia adalah akibat alzheimer, selain itu disebabkan penyakit stroke, parkinson, dan lainnya. Demensia dapat disebabkan oleh berbagai hal dan dapat mempengaruhi ingatan, proses dalam berpikir, perilaku dan emosi seseorang. Untuk mencegah terkena alzheimer dianjurkan untuk menjalani berbagai aktivitas dan gaya hidup sehat yang dapat merangsang otak.

Olahraga rutin dapat membantu mencegah alzheimer, olahraga dapat membantu meningkatkan brain derived  neurotropic factor (BDNF) yaitu protein utama yang mengatur pemeliharaan, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup neuron atau sel saraf. Olahraga secara rutin juga membantu menurunkan tingkat kecemasan daan meningkatkan regenerasi sistem saraf sensorik.

Sementara itu, stimulasi mental dapat dilakukan dengan cara stimulasi kognitif seperti membaca, menulis, dan bermain papan atau kartu permainan. Stimulasi mental yang rutin dilakukan dapat menurunkan risiko kehilangan ingatan sekitar 30%-50%. seseorang dengan kognitif pasif di usia tua memiliki potensi risiko 2,6 kali terkena demensia dibanding kognitif aktif.

Beberapa faktor risiko alzheimer yang dapat dimodifikasi yaitu tekanan darah tinggi, diabetes melitus, resisten insulin, dyslipidemia, merokok, obesitas, dan gagal jantung. Faktor-faktor tersebut dapat diantisipasi dengan pendekatan farmakologi dan non-farmakologi Risiko penyebab kerusakan kognitif pada otak didasarkan atas kondisi kesehatan, seperti tekanan darah tinggi, diabetes melitus, dan obesitas. Hal tersebut dapat diminimalkan dengan cara mengurangi asupan garam, makanan berlemak, perencanaan makanan secara baik, dan latihan fisik secara rutin. Sementara pengelolaan non-farmakologi yaitu dengan cara melibatkan diri pada kehidupan sosial yang lebih intensif, melakukan aktivitas yang menstimulasi fungsi kognitif, melakukan latihan memori dan latihan relaksasi, serta mengkonsumsi syuran dan buah-buahan setiap harinya.

Gejala penyakit seperti menurunnya daya ingat dan kemampuan berpikir, yang sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam masa penuaan. Lebih buruk lagi, hal tersebut dianggap sebagai penyakit mental atau gangguan otak yang tidak dapat dihindari dan permanen. Bahkan di masyarakat muncul ketakutan serta stigma negatif tentang kondisi orang yang menderita demensia. Mereka kerap diiolasi, bahkan disembunyikan karena sering berperilaku memalukan dan tidak dapat dikendalikan di depan umum. Bagi keluarga, hal ini memicu rasa malu yang akhirnya membuat mereka putus asa dan frustasi lalu menganggap sudah tidak ada lagi hal yang dapat dilakukan untuk membantu.

Cara Agar Tidak Cepat Pikun:

  • Kurangi asupan lemak trans dan lemak jenuh

Lemak yang satu ini biasa disebut sebagai lemak jahat karena cenderung meningkatkan kadar kolesterol darah. Hal ini berisiko mendorong produksi plak beta-amiloid di otak, yang merupakan ciri dari penyakit alzheimer.

  • Mengkonsumsi vitamin E

Mengkonsumsi vitamin E sekitar 5 miligram per hari dapat mengurangi risiko penyakit alzheimer. Vitamin E mudah untuk dikonsumsi karena terkandung dalam segenggam biji-bijian, atau mangga, pepaya, alpukat, tomat, paprika merah, bayam, roti, dan sereal.

  • Rutin olahraga

Peneliti mengungkapkan, olahraga aerobik ataupun berjalan cepat secara teratur dapat mengurangi risiko pikun sebesar 40%-50%. Melakukan jalan kaki 6-9 mil dalam seminggu juga bisa menurunkan risiko kepikunan dan masalah fungsi otak.

  • Bermain permainan otak.

Permainan yang membutuhkan kerja tak secara aktif dapat menangkal penurunan mental. Membaca seumur hidup dan permainan-permainan dapat menurunkan kadar beta-amiloid di dalam otak yang dapat menyebabkan penyakit alzheimer.